Cerpen · Suara Merdeka

Utang yang Tak Terbayar

Cerpen Koran Minggu

Utang yang Tak Terbayar ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg Utang yang Tak Terbayar ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Marjo tak tahu harus berbuat apa. Upah sebagai buruh mencangkul tak mencukupi kebutuhan. Kini makan, besok tak mesti.

Di gentong dapur kadang ada beras, kadang tak sebutir pun. Namun pagi itu dia senang. Dia tak nafsu makan! Sungguh, dia senang tak susah-payah menakar, mencuci, dan memasak beras, meski persediaan beras cukup untuk sarapan dan makan siang.

View original post 908 more words

Cerpen · koran tempo

Perempuan Tinggi Berbuku Besar

Cerpen Yusrizal KW / Koran Tempo (18-19 Maret 2017)

perempuan-tinggi-berbuku-besar-ilustrasi-imam-yunni-koran-tempo
Ilustrasi Imam Yunni

Langkah perempuan itu panjang-panjang. Kalau berjalan wajahnya sedikit tertekuk ke depan mengiringi irama tubuhnya yang kurus agak bungkuk. Rambutnya lujur, beruban. Berkaca mata tebal, selalu mengempit buku besar ukuran folio berwarna batik-batik hijau. Kalau bicara, sesekali membenarkan letak kaca matanya yang sering melorot dari puncak hidungnya. Continue reading “Perempuan Tinggi Berbuku Besar”

Cerpen · kompas

Saat Maut Batal Menjemput

Cerpen Radhar Panca Dahana Kompas/12 Maret 2017

saat-maut-batal-menjemput-ilustrasi-radhar-panca-dahana
Ilustrasi Radhar Panca Dahana/Kompas

AKU tahu, di tiap “sakit itu”, “tak siapa pun di situ”. Kesendirian, kadangkala juga sebuah kesunyian, memang adalah watak sakit yang sebenarnya. Tapi tidak kali ini. “Sakit ini”, rasa sakit yang ada sekarang ini, bahkan “aku pun tidak di sini”. Entah kenapa. Aku belum paham, apakah ini hikmah atau jati diri sakit yang sesungguhnya. Yang melampaui kesadaran biologis bahkan kepekaan psikologisku. Ah… aku…aku sesungguhnya tidak cemas pada “sakit ini atau itu”, aku juga tidak peduli ini watak atau jati diri sakit yang sesungguhnya atau bukan. Apa yang kucemaskan hanyalah kesadaran dan kepekaan itu. Adakah aku masih memilikinya? Continue reading “Saat Maut Batal Menjemput”

Cerpen · kompas

Orang yang Tak Bisa Berbohong

26 Maret 2017, Kompas

orang yang tdak bisa berbohong
Ilustrasi oleh Nyoman Sujana Kenyem/Kompas

Siapa pun tahu, Dia tak bisa berbohong. Apa yang diomongkan selalu benar. Dan selalu tepat pada sasaran. Mangkanya, di kampung, jika ada persoalan penting dan membutuhkan orang yang tak bisa berbohong, maka orang-orang selalu menunjuk Dia. Dan menyatakan: “Dalam sejarah kampung, kita beruntung mempunyai warga seperti Dia. Sehingga, kebenaran selalu dapat terjaga. Kebenaran, yang bagi orang lain sulit untuk diomongkan, tapi bagi Dia selalu saja dapat diomongkan.” Tapi, kini, orang-orang di kampung mencuekkan dia. Dia ada atau tak ada, tak ada yang peduli. Jadi, semacam pepatah: “Datang tanpa muka, pergi tanpa punggung,” itulah Dia. Dia yang mungkin lebih banyak hidup dan bergerak sendirian.  Dia yang ketika berjumpa dengan orang-orang, lebih banyak dijauhi. Dan lebih banyak seperti angin. Terasa tapi tak terjamah. Continue reading “Orang yang Tak Bisa Berbohong”